Jumat, 07 Desember 2018

Pikiran Sebagai Teman sekaligus Musuh dalam diri manusia Menurut agama Hindu

SCRIPT BIMBINGAN ROHANI AGAMA HINDU

PROGRAM
:
Percikan Dharma
TEMA
:
PIKIRAN: TEMAN SEKALIGUS MUSUH MANUSIA
DURASI
:
30 ( 24 ) Menit
LOKASI
:
Pura Amerta Jati Cinera
PENULIS
:
KS Arsana
PENATA LAKU
:
Ni Putu Dewi Angereni
NARASUMBER
:
A.A Oka Puspa



TALENT
:
1.      Narasumber (ibu)
2.      Host (tante)
3.      Asti
4.      Wina
5.      Satria

SINOPSIS:
Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling sempurna dan mulia. Manusia dari sejak lahir sudah membawa bakat, sifat, watak, dan kemampuannya masing-masing. Manusia adalah perpaduan aspek rohani dan materi. Aspek rohaninya adalah Jiwa, sedangkan aspek materinya terdiri dari vasana, sebuah kata Sanskerta yang berarti sifat bawaan seseorang. Vasana bermanifestasi ke dalam tiga lapisan tubuh atau raga manusia.
Jiwa atau Atman (bahasa Sanskerta) atau soul (bahasa Inggris) adalah kekuatan yang memberi kehidupan pada raga, yang berada di dalam setiap makhluk hidup termasuk manusia. Jiwa adalah percikan Brahman, Tuhan Yang Maha Esa.
Tubuh atau raga adalah kendaraan yang dipakai jiwa untuk menerima stimulus, merespon, merasa, mengasihi, mencari identitas diri, dan berbagai ekspresi kejiwaan. Tubuh atau raga manusia terdiri atas tiga lapisan badan yaitu:
1.      badan kasar (sthula sarira, tubuh fisik),
2.      badan halus (suksma sarira, pikiran), dan
3.      badan kausal (antakarana sarira, intelek, akal budi).
Menurut Swami A. Parthasarathy, filosof modern pendiri dan pemimpin Vedanta Academy, dalam bukunya The Fall of the Human Intellect dan Governing Business & Relationship (2010), Badan Kasar atau Tubuh Fisik disebut Physical Personality, Badan Halus atau Pikiran disebut Emotional Personality, dan Badan Kausal/Penyebab atau Akal Budi disebut Spiritual Personality.
Badan Kasar atau Tubuh disebut juga Physical Personality, dihidupi oleh jiwa untuk menjalankan fungsi menerima rangsangan obyek dan bertindak (sense-objects and actions). Tubuh terdiri atas organ persepsi dan organ bertindak. Organ persepsi yang berupa panca indera digunakan untuk mempersepsi dan menerima rangsangan dari lingkungan dunia. Mata untuk melihat warna dan bentuk, telinga untuk mendengar suara, hidung untuk membau, lidah untuk mengecap rasa, kulit untuk merasakan sentuhan.
Badan Halus atau Pikiran disebut juga Emotional Personality. Pikiran (mind) terdiri atas perasaan, emosi, keinginan, dan dorongan nafsu. Jiwa menghidupi pikiran (mind) untuk merasakan kenikmatan, senang, sedih, cinta-kasih, benci, takut, puas, kesabaran, keterikatan, marah, cemburu, dan sebagainya; yaitu aspek-aspek emosi.
Sedangkan Badan Kausal/Penyebab disebut juga Spiritual Personality adalah Akal Budi (Budhi, Intellect). Akal budi dihidupi oleh jiwa dengan tujuan digunakan untuk berpikir, memahami, menalar, menilai, dan memutuskan. Fungsinya untuk memandu dan mengarahkan pikiran (mind) dan mengarahkan tubuh (body). Menurut Parthasarathy, ada dua jenis intelek, yaitu gross-intellect yang berfungsi untuk berpikir disebut Intellectual Personality dan subtle-intellect yang berfungsi untuk melakukan kontemplasi dan disebut Spiritual Personality. Intelek kasar (gross-intellect) berfungsi untuk berpikir, memahami, mencari alasan, menjadi hakim, dan memutuskan. Intelek halus (subtle-intellect) berfungsi untuk menghubungkan Jiwa (Atman) dengan Tuhan (Brahman).
Badan kasar adalah lapisan tubuh paling kasar dari ke tiga lapisan tubuh. Pikiran lebih halus dari badan kasar. Dan akal budi lebih halus dari pada pikiran. Di dalam badan kasar terdapat dua peralatan yang menakjubkan yang dikenal sebagai pikiran dan akal budi (intelek).
Pikian atau Emotional Personality sering diibaratkan seperti monyet liar, yang tidak bisa diam, melompat liar ke sana-sini, dari satu obyek ke obyek lain. Karena sifatnya yang liar, ditambah dengan tempat bersemayamnya segala keinginan, ego dan nafsu manusia, itulah maka pikiran sangat menentukan sukses atau gagalnya seseorang.
Dalam pustaka suci Bhagawad Gita, Tuhan bersabda: “Bagi ia yang telah mampu mengendalikan pikiran, pikiran adalah teman terbaik; namun bagi orang yang gagal mengendalikannya, pikirannya akan tetap menjadi musuh terbesar. (Bhagawad Gita 6.6)
Dalam konteks ini, maka pikiran dapat menjadi teman terbaik atau musuh terjahat manusia. Jadi, menurut agama Hindu, teman terbaik kita adalah pikiran kita yang terkendali, sedangkan musuh terjahat kita adalah pikiran yang tidak terkendali. Orang lain bukanlah musuh, tapi saudara.
Bagaimana caranya menjadikan pikiran agar menjadi teman terbaik kita? Karena pikiran seperti monyet liar, maka memperlakukan pikiran pun seperti kita memperlakukan monyet liar. Menaklukkan monyet liar tidak boleh dengan cara diikat, terlebih lagi dikerangkeng, karena akan menjadikannya tambah liar. Cara terbaik untuk menaklukkan monyet liar adalah dengan memberinya makan kesukaannya, seperti pisang, apel, dsb. Cara mengendalikan pikiran yang terbaik adalah dengan memberinya “makanan paling bergizi” bagi pikiran, yaitu mantra. Mantra adalah instrumen yang memandu pikiran untuk dia tenang, memandu pikiran untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Mantra akan memberi vibrasi positif ke dalam diri orang yang melantunkan mantra sekaligus memberi vibrasi positif kea lam sementa.
Beberapa contoh mantra, misalnya Gayatri Mantra, Om Namah Shivaya, Hare Krishna, Saraswati Mantra, dsb (narasumber dapat melantunkan beberapa mantra sebagai penutup).


SKENARIO

Asti dan Wina sedang santai berkumpul di taman belakang rumahnya bersama ibu (narasumber) dan tante (host) sambil bercengkrama.
Tante
Asti, Wina tante dari pagi tidak melihat Satria kemana kakak mu?
Ibu
Coba panggilkan kakak mu ajak bergabung dengan kita, kemungkinan dia sedang ada masalah
Asti
Baik bu, biar Asti saja yang memanggil kakak (sambil pergi memanggil kakak)

Tidak beberapa lama menunggu akhirnya Satria pun ikut dengan Asti ke taman, dalam perjalanan menuju ke taman muka Satria dengan muka seperti mengalami kekecewaan terhadap dirinya sendiri.
Tante
Aduh..., Satria kamu kenapa muka nya ditekuk dan mengurung diri sendiri, apa kamu ada masalah?, mungkin bisa diceritakan dan dicarikan solusi dengan ibu
Satria
Iya tante, jadi saya memiliki masalah dalam pergaulan, karena Satria merasa memiliki pendapat berbeda lalu Satria dijauhi karena tidak sependapat
Tante
(host) Jadi masalahnya pola pemikiran dari pengetahuan yang berbeda nih bu sepertinya, bagaimana seharusnya Satria menyikapi bu?
Ibu
(narasumber) menjelaskan mengenai penjelasan pikiran dalam konteks agama Hindu secara agama Hindu dikaikatkan dengan contoh yang relevan di kehidupan sekarang .................................................
Asti
Bu, bagaimana seharusnya kita sebagai manusia dalam agama Hindu mengelola cara kita berpikir?
Ibu
(narusumber) menjelaskan bahwa pikiran  jika dibawa ke arah baik dia akan menjadi sahabat dan apabila negatif akan menjadi musuh dengan mencantumkan sloka dalam kitab suci Hindu sebagai penguat dalam penjelasan.........................................
Wina
Bagaimana mengarahkan pikiran agar menjadi sahabat terbaik bu?
Ibu
(narasumber) menjelaskan................................................................
Tante
(host) pesan apa nih yang ingin ibu sampaikan kepada kita semua terkait Pikiran : teman sekaligus musuh manusia, agar kita semua bisa menjadi manusia yang bijaksana dalam bermasyarakat?
Ibu
(narasumber) menjelaskan yang diakhiri dengan mantram dan bisa ditambahkan sloka apabila memiliki lebih dari 1 sloka
Tante
(host) kesimpulan......, closing
Satria berterimakasih dia pun memiliki pikiran yang ternutrisi kembali dengan nasihat ibu, dan tidak mudah menaruh pikiran jahat. Tante dan ibu pergi keluar untuk menghadiri kegiatan umat lainnya, diikuti Satria yang izin pergi juga setelah ibu dan tante. Ani dan Wina pun menikmati waktu santainya kembali.

NOTE # bila durasi masih kurang maka bisa ditambah pertanyaan





Referensi  Pustaka
§  Parthasarathy, A. 2010. The Fall of the Human Intellect. Mumbai: Vakil & Sons Pvt. Ltd.
§  Parthasarathy, A. 2010. Governing Business & Relationship. Mumbai: Vakil & Sons Pvt. Ltd.

§   Adiswarananda, Swami.  Hinduism: The Human Individual dalam http://www.ramakrishna.org/activities/message/weekly_message40.htm [Selasa, 13 Maret 2018, pukul 10.18 WIB]


§   Bhagawad Gita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar