Sabtu, 21 April 2018

Bergaul dengan Orang Baik untuk Mencapai Hidup Tenang dan Bahagia


CHARACTER BUILDING
BERGAUL DENGAN ORANG BAIK –BAIK UNTUK MENCAPAI KEHIDUPAN TENANG DAN BAHAGIA
Dosen Pengampu:.Drs.A.A. Gde Raka Mas. M.Fil.H


Oleh:
Eni Kusti Rahayu
1509.10.0033
Penerangan Agama Hindu

SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU
DHARMA NUSANTARA
JAKARTA
2016


Nama               : Eni  Kusti Rahayu
Mata kuliah     : Character Building
Jurusan            : Penerangan Agama Hindu
Semester          : II

Bergaul dengan Orang Baik-Baik
            Kita telah mengetahui bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individu, ia bisa melakukan apa saja yang sekiranya bisa membuat dirinya senang, namun tentunya tetap dengan cara yang tepat, benar, dan tidak merugikan orang lain. Dalam hal ini, sebagai makhluk individu, manusia cenderung sendiri dan tidak banyak terkena perngarug dari dunia luar di lingkungan sekitarnya, bahkan mungkin hanya individu tersebut dengan Tuhan saja yang tahu.
            Sedangkan hakikat manusia sebagai makhluk sosial adalah, kecenderungan manusia untuk melakukan hubungan timbal balik/ interaksi dengan manusia lain, baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, ataupun kelompok dengan kelompok. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri, mereka memerlukan adanya kehadiran dan bantuan dari orang lain dengan tujuan untuk saling memenuhi kebutuhan hidup.
            Kita tidak dilarang untuk bergaul dengan siapa saja, namun tetap saja kita harus berhati –hati dan tetap selektif dalam bergaul.  Kita juga harus tetap berpegang pada aturan –aturan kebaikan, nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, dan tidak melupakan nilai kebaikan dan aturan yang telah diajarkan oleh orang tua kita. Ini dilakukan karena agar jangan sampai terjadi penyimpangan dalam pergaulan.
           
Kita mengetahui bahwa setiap orang mempunyai sifat, karakter, kebiasaan, norma, dan latar belakang yang berbeda- beda. Daerah asal dan juga lingkungan juga menjadi faktor yang sangat menentukan pergaulann seseorang, baik itu dari lingkungan keluarga, lingkungan teman, lingkungan kerja, maupun lingkungan masyarakat dimana ia tinggal. Oleh karena itu kita tidak bisa menyalahkan orang lain, justru kita yang seharusnya banyak belajar dan bisa selektif, agar mampu membedakan mana orang yang benar-benar baik dan mana orang yang tidak baik, serta mana orang yang pantas menjadi teman bergaul.
            Namun perlu kita ingat, kita tidak boleh menilai orang hanya dari tampak luarnya saja. Kita tidak berhak menilai seseorang begitu saja tanpa adanya proses perkenalan dan pemahanan yang benar-benar. Kita harus memahami orang dengan baik –baik.  Kita harus menjadi seseorang yang kritis dan selektif, termasuk salah satunya adalah dalam bergaul.  Jangan sampai kita bergaul dengan orang yang tidak baik, karena tentu saja itu akan menjerumuskan kita dalam hal yang negatif. Memang benar, kita tidak dapat mengetahui secara pasti dan tidak ada yang menjamin bahwa orang itu benar-benar baik atau tidak.  Tetapi setidaknya kita bisa berpikir dan mampu membedakan mana orang yang berkarakter baik, mana orang yang bersifat baik dan mana orang yang berperilaku positif yang akan membawa dampak positif bagi diri dan lingkungan sekitarnya.
            Apabila kita bergaul dengan orang yang tidak baik, bisa saja menjadi terpengaruh dan terjerumus dalam hal yang tidak baik, yang nantinya akan merugikan. Kita harus selalu berusaha untuk tetap bergaul dengan orang yang baik, dengan kita bergaul dengan orang yang baik, setidaknya kebaikan itu akan menular kepada kita. Banyak sekali menfaat yang dapat didapat dari pergaulan yang baik. Tentunya kita lebih memahami apa arti dari kebaikan dan pentingnya kebaikan bagi setiap manusia. Kita bisa menambah banyak pelajaran, pengalaman, dan pengetahuan baru tentang sebuah arti kebaikan.
            Bergaul dengan orang baik-baik tentu aka membuat hidup kita menjadi bahagia, tenang dan merasa aman. Mulai dari pikiran, kita akan selalu bisa berpikir dengan baik dan senantiasa terus berpikir positif. Berpikir positif akan membuat pikiran kita menjadi rileks, jernih, cemerlang dan selalu memiliki ide kreatif dalam menghadapi segala hal. Berpikir juga membuat kita merasa tenang, aman, dan nyaman, karena kita tidak akan membiarkan pikiran kita untuk berpikir yang macam-macam, apalagi negatif. Hal tersebut karena sudah bisa mengendalikan pikiran kita, dan tidak pernah sekalipun terlintas pikiran jahat.
 Setelah pikiran, yang selanjutnya adalah perkataan. Bagi mereka orang yang baik, mereka tidak akan mengatakan hal yang tidak sepatutnya dikatakan, tidak akanmengatakan kata-kata kasar dan tidak akan berkata menyakiti hati orang lain, baik dalam keadaan apapun ia dapat mengendalikan pikiran dan mengendalikan perkataan mereka. Mereka akan selalu berusaha untuk terus menjaga perasaan  orang lain. Kita juga dapat mengetahui karakter seseorang dari perkataannya. Seorang filsuf dunia yang bernama Plato mengatakan bahwa “Orang bijak berbicara karena memang ada sesuatu untuk dibicarakan, sedangkan orang bodoh berbicara karena ia harus mengatakan sesuatu.” Plato juga menambahkan “Kerendahan seseorang diketahui melalui dua hal, yaitu banyak berbicara tentang hal yang tidak berguna dan bercerita padahal ia tidak ditanya.” Oleh karena itu, kita harus memikirkan betul apa yang akan kita bicarakan, agar tidak menyakiti perasaan siapapun, sehingga apa yang dibicarakan dapat tersampaikan dengan baik. Perlu diingat bahwa mulutmu adalah harimaumu. Jadi jagalah baik-baik. Pikirkan apapun yang akan dibicarakan. Itulah ciri  orang yang baik.
            Ketiga dan yang utama adalah perbuatan yang baik.  Orang yang baik akan selalu berbuat dan bertindak dengan benar, tepat, dan cepat. Ia selalu mempertimbangkan apapun yang akan ia lakukan. Bergaul dengan orang yang baik pastinya akan menularkan kepada kita untuk menjadi lebih baik.
            Oleh karena itu, selalu berhati-hatilah dalam bergaul dengan seseorang, baik itu sahabat, teman ataupun pacar, karena tidak ada yang tau pasti apakah mereka benar-benar baik atau tidak. Selalu ingat juga, janganlah menilai seseorang dari luarnya saja, kenalilah dia, pahamilah dia, baru kita bisa menilai dia seutuhnya. Pastikan bahwa kita sudah bergaul dengan orang yang tepat, orang yang baik, karena apabila kita bergaul dengan orang yang baik, maka nilai kebaikan dan sifat baik dalam diri kita akan bertambah dan bahkan berkembang jauh lebih baik.
            Bergaul dengan orang yang baik sangatlah menyenangkan bukan? Ya tentu saja, bagaimana tidak? Kita akan selalu dalam rasa aman dan nyaman, tanpa ada bayangan  tentang gangguan dan ancaman dari pihak manapun, karena orang baik jarang bahkan hampir tidak mempunyai musuh. Sehingga kita bisa menikmati hidup dengan tenang dan bahagia tanpa ada rasa khawatir yang berlebih, toh kita tidak pernah melakukan hal negative apabila kita bergaul dengan orang yang baik.
            Jadi, sekarang yang perlu kita lakukan adalah melihat diri kita masing-masing, apakah sudah bergaul dengan orang yang tepat apa belum? Jika belum, maka segeralah berpikir sejenak dan segera beranjak untuk bergaul dengan orang yang sekiranya baik, karena itu akan membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik dan akhirnya bisa membuat kita tenang dan bahagia, tanpa adanya rasa khawatir akan segala gangguan dan ancaman di kehidupan ini.








Jumat, 20 April 2018

Makalah Etika Politik dalam Ajaran Agama Hindu

TATA SUSILA

Etika Politik dalam Ajaran Agama Hindu

Dosen Pengampu:
I Ketut Angga Irawan, M.Si




Oleh:
Eni Kusti Rahayu
 1509.10.0033

JURUSAN PENERANGAN AGAMA HINDU
SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU
DHARMA NUSANTARA
JAKARTA
2017



KATA PENGANTAR 
Om swastyastu 
Puji syukur kami haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa atas Asungkerta Waranugraha-Nya,  tugas makalah mata kuliah Tata Susila dengan judul Etika Politik dalam Ajaran Agama Hindu ini bisa terselesaikan. Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang terkait dalam pembuatan makalah ini, diantaranya, Bapak I Ketut Angga Irawan sebagai dosen pengampu mata kuliah Tata Susila, teman-teman dikelas yang telah memberikan kami dukungan, dan semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu yang terkait dalam menyediakan sarana dan prasarana guna mempermudah pencarian literature untuk makalah kami.
Makalah yang kami buat ini sangat jauh dari kesempurnaan, sehingga kritik dan saran bagi pembaca sangat diharapkan guna dijadikan pembelajaran pada pembuatan makalah yang akan datang. Terima kasih atas partisipasi dan perhatian para pembaca, semoga semua isi yang ada dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi bembaca.
Om santi, santi, santi Om.
Jakarta, Desember 2017

Penulis





i
 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................      i
DAFTAR ISI .............................................................................................      ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang...........................................................................      1
1.2  Tujuan Penulisan.......................................................................      2

BAB II PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Politik dalam Perspektif Hindu................................      4      
2.2  Sumber Ajaran Agama Hindu Tentang Politik .........................      5
2.3  Etika Politik Sesuai Ajaran Agama dan Sastra Hindu...............     

BAB III PENUTUP
3.1  Kesimpulan................................................................................     

DAFTAR PUSTAKA




ii



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

            Di zaman modern ini kekuasaan adalah segalanya. Demi memperoleh kekuasaan tersebut tidak sedikit yang menjadikan dirinya sebagai pemimpin. Mereka terobsesi untuk menjadi pemimpin. Tidak peduli dengan realita mampukah mereka menjadi pemimpin yang baik. Tidak salah jika melihat bibit-bibit pemimpin yang tidak baik ini akan menjadi suatu kemunduran kualitas dari pemimpin itu sendiri.
            Melihat realita ini kami mencoba untuk mengkaji dan menggali ilmu Politik Hindu (Nitisastra) sebagai suatu perbandingan, tolak ukur, acuan untuk menjadi seorang pemimpin yang berintegritas tinggi, baik untuk diri sendiri ,keluarga, lingkungan yang dipimpin, serta baik dimata Tuhan. Ilmu-ilmu Politik atau pemerintahan ini hendaknya dipelajari, dipahami,dipraktekkan oleh calon-calon pemimpin agar terbentuk pemimpin yang benar-benar berkualitas dari kulit maupun isinya.


1.2  Rumusan Masalah

1.        Bagaimana pengertian politik menurut perspektif Agama Hindu?
2.        Apa saja sumber ajaran agama Hindu tentang politik?
3.        Bagaimana  kewajiban seorang tokoh politik sesuai sastra hindu?
4.        Bagaimana etika politik Hindu yang sesuai dengan ajaran dan satra agama?
5.        Bagaimana Konstribusi Agama Hindu dalam  Hubungan Politik, berbangsa dan bernegara?





1.3  Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui pengertian politik menurut perspektif Agama Hindu;
2.      Untuk mengetahui sumber ajaran agama Hindu tentang politik;
3.      Untuk mengetahui kewajiban seorang tokoh politik sesuai sastra Hindu.
4.      Untuk mengetahui etika politik Hindu yang sesuai dengan ajaran dan satra
Agama
5.        Untuk mengetahui Konstribusi Agama Hindu dalam  Hubungan Politik, berbangsa dan bernegara













BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Politik Menurut Perspektif Hindu
Etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Ethes” yang berarti kesediaan jiwa akan kesusilaan, atau dapat diartikan kumpulan peraturan tentang kesusilaan. Dengan kata lain, etika politik merupakan prinsip moral tentang baik-buruk dalam tindakan atau perilaku dalam berpolitik.Etika politik juga dapat diartikan sebagai tata susila (kesusilaan), tata sopan santun (kesopanan) dalam pergaulan politik.
Dalam praktiknya, etika politik menuntut agar segala klaim atas hak untuk menata masyarakat dipertanggungjawabkan pada prinsip-prinsip moral dasar.Untuk itu, etika politik berusaha membantu masyarakat untuk mengejawantahkan ideologi negara yang luhur ke dalam realitas politik yang nyata. (https://id.wikipedia.org/wiki/Etika_politik). Ajaran etika atau moralitas adalah tingkah laku yang baik dan benar untuk kebahagiaan hidup serta keharmonisan hidup antar manusia.
Dalam pandangan atau perspektif agama Hindu, istilah politik dikenal dengan ajaran Nitisastra, yaitu Nitisastra berasal dari kata Niti yang berarti undang - undang yang mengatur negara atau negeri dan sastra yang berarti pelajaran Dharma, Pelajaran Suci dan pelajaran Agama (Kamus BHS BALI dalam  Anandakusuma (1986).
Namun jika dilihat dari Bahasa Sansekerta, Niti berarti kebijaksanaan duniawi, etika dan politik, serta menuntun. Sedangkan Sastra berarti Mantra atau pujaan Suci.
Sedangkan jika kita melihat Kamus Bahasa Jawa Kuno, Niti berarti Pedoman Hidup, ilmu tata Negara, kesopanan siasat Negara (kebijakan) politik. Sedangkan Sastra adalah Kitab ilmu pengetahuan atau Kitab pelajaran. Jika melihat pengertian diatas, Nitisatra dapat diartikan sebagai Ilmu pengetahuan yang mengajarkan tenatang bagaimana bertingkah laku, memimpin, mendidik, berdasarkan dharma.
Kendati demikian banyak juga orang yang mengartikan Nitisatra sebagai kitab atau ilmu kepemimpinan tata negara.
Nitisastra sangat besar kaitannya dengan Dhanda Niti, Artha Sastra, Raja Dharma,Niti Sastra dan Raja Niti. Bahkan beberapa ahli mengatakan semuanya sama dengan Nitisastra hanya saja namanya yang berbeda;
Berikut pengertian dari Artha Sastra, Raja Niti, Dhanda Nitim Niti Sastra, dan Raja Dharma, Dhanda Niti adalah kitab yang memngajarkan tentang pengaturan atau hukum-hukum yang mengatur dalam kehidupan bermasyarakat. Kemudian Raja Niti adalah kitab yang mengajarkan bagaimana cara memimpin, Raja Dharma adalah kitab yang mengajarkan kebenaran dan kewajiban seorang pemimpin.
Artha Sastra adalah kitab yang mengajarkan bagaimana mengatur kesejahteraan dalam kehidupan di suatu wilayah.
Politik dalam perspektif Hindu adalah pengetahuan untuk menyelenggarakan pemerintahan suatu negara guna untuk mencapai tujuan dalam menciptakan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan dalam masyarakat yang berdasarkan atas sastra dan ajaran dalam agama Hindu. Menurut kitab suci weda, politik merupakan cara untuk mencapai tujuan atau memegakkan Dharma, dimana dalam pelaksanaan untuk mencapai tujuan tersebut harus tetap berlandaskan pada agama, moral dan etika.
Dalam konteks ini, agama Hindu menawarkan pola hidup yang sederhana. Sebab dengan pola ini, masyarakat akan selalu ingat dengan tujuannya yang tertinggi yaitu kebahagiaan yang kekal dan abadi atau yang disebut dengan moksa. Jika mereka mengikuti keinginan dan indriya-indriiyanya, maka  mereka akan terjebak pada maya atau keadaan seola-olah  semakin menjerumuskan masyarakat.  Dalam konteks pemikiran seperti ini, pragmatism politik tergolong sebagai pemikiran yang dipengaruhi oleh maya. Bantuan keuangan seolah-olah telah memberikan kontribusi  kepada masyarakat . padahal kenyataan itu bisa sebaliknya. Sebab tuntunan seperti ini, bukan tidak mungkin akan menyebarkan budaya korupsi di kalangan penyelenggara politik ataupun pemerintahan negara. Sebab mereka memerlukan modal yang besar untuk duduk di kursi politik. Korupsi seperti ini trntu akan mengurangi jatah bagi pembangunan kesejahteraan masyarakat. Karena itulah, tidak ada  alasan agama  apapun yang membenarkan sebuah pragmatism politik seperti itu. Agama Hindu justru menyemangati masyarakat untuk membela kebenaran.

2.2  Sumber Ajaran Agama Hindu Tentang Politik
2.2.1        Kitab-Kitab Veda (Sruti)
                 Bila dicermati pemikiran tentang Nitisastra sudah terdapat dalam kitab-kitab  sruti. Sebagai kita ketahui masing-masing kitab sruti mempunyai Upaveda tersendiri. Kitab upaveda dari Rgveda adalah kitab ayurveda, kitab upaveda dari Yajurveda adalah kitab Dhanurveda, kitab upaveda dari SamaVeda adalah kitab Gandharwa Veda, dan kitab upaveda dari Atharwa Veda adalah kitab Arthaveda. Kitab Arthaveda dikenal sebagai kitab yang memuat pengetahuan tentang, pemerintahan, ekonomi, politik, sosial, pertanian dan lain-lain.  jadi, Arthaveda merupakan kitab sruti yang memuat tentang Nitisastra, yang mempelajari tentang ilmu politik dan juga ilmu pemerintahan. Bagi pemeluk Hindu etika berpolitik terdapat dalam kitab suci Veda yaitu Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atharvaveda. Politik dalam Veda menitikberatkan pada kewajiban pemimpin pemerintahan dan rakyat untuk bersama-sama menegakkan kejayaan bangsa dan negara, yang dikenal dengan istilah “dharma negara”.
 Bentuk pemerintahan menurut Veda adalah berkedaulatan rakyat:


Mahate Janarajyaya (Yajurveda IX. 40)
Semoga Tuhan membimbing kami ke sebuah  negara yang berkedaulatan rakyat. Lebih jauh diulas pula bahwa rakyat yang merdeka, sejahtera dan berdaulat adalah kekuatan utama bagi tegaknya suatu bangsa:

Uttaram Rastram Prajaya Uttara Vat (Atharvaveda
XII.3.10)
Para politisi yang bersaing menguasai pemerintahan disyaratkan dalam Veda agar selalu memperhatikan kepentingan rakyat karena landasan seorang pemimpin adalah rakyatnya:

Visi Raja Pratisthitah (Yayurveda XX.9)
karena itu pemimpin hendaklah berupaya meningkatkan kualitas rakyat:

Pra Jam Drmha (Yayurveda
V.27)
memelihara kesejahteraan rakyat:

Sivam Prajabhyah (Yayurveda XI.28)
membahagiakan rakyat:

Panca Ksitinam Dyumnam A Bhara (Samaveda
971)
memperhatikan keluhan rakyat:

Visam Visam Hi Gacchathah (Samaveda 753)
dan memakmurkan rakyat:

Prajam Ca Roha-Amrtam Ca Roha (Atharvaveda XIII.1.34)
Sebaliknya rakyat pun wajib mematuhi perintah-perintah pemimpin bangsa:

Tasya Vratani-Anu Vas Caramasi (Rgveda VIII.25.16)
selalu waspada pada hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan bangsa:

Vayam Rastre Jagryama Purohitah (Yayurveda IX.23)
dan berani berkorban untuk kejayaan bangsa:

Vayam Tubhyam Balihrtah Syama (Atharvaveda XII.1.62)

Kutipan-kutipan ayat-ayat suci yang disebutkan di atas memberikan batasan kriteria, kualitas pemimpin yang bagaimana patut dipilih oleh rakyat agar rakyat mendapatkan hak-haknya sebagai warganegara dan kewajiban politik apa pula yang perlu dilakukan oleh rakyat. Rakyat tidak dibenarkan untuk pasif atau apatis dalam kegiatan politik baik sebagai pemilih maupun tergabung dalam kegiatan politik praktis, karena itu merupakan swadarma warganegara dalam wujud bhakti.

2.2.2        Kitab- kitab Smerti
           Kitab-kitab Manawa Dharmasastra memuat ajaran-ajaran bhagavan Manu yang dihimpun dan disusun oleh bhagawan Bhrgu, banyak selaki memuat ajaran tentang politik dan tata kenegaraan. Dalam adhyaya VII memuat tentang peraturan kenegaraan sedangkan pada Adyaya VIII memuat bergabai aspek hukum yang juga berkaitan dengan upaya penyelenggaraan pemerintahan Negara. Dalam kitab ini kita menggunakan istilah Raja Dharma.
rajadharamam pravaksyami
yatha vrtto bhaven nrpah
sambhavasca yatha tasya
siddhisca paramayatha
(Manava Dharmasastra VII.1)
Artinya : Akan saya nyatakan dan perlihatkan tentang kewajiban raja (Raja Dharma) bagaimana raja seharusnya berbuat untuk dirinya sendiri, bagaimana ia dijadikan dan bagaimana ia dapat mencapai kesempurnaannya yang tertinggi
Sweswe dharme niwistanam sarwesamapurawacah, warnanamacramanamca raja srsto bhiraksita
(Manawa Dharmasastra, VII.35)
Artinya :
Raja telah  diciptakan untuk melindungi warna dan aturannya yang semua menuntut tingkat kedudukan mereka melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban mereka.

Indranilayamarkanam agnecca warunasya ca, candrawiiechayocchaiwa matra nirhrtya cacwatih.
( Manawa Dharmasastra, VII,4)
Artinya :
Untuk memenuhi maksud tujuan itu (Raja) harus memiliki sifat-sifat partikel yang kekal dari para Dewa Indra, Wayu, Yama, Surya, Agni, Waruna, Candra, dan Kubera.








2.2.3        Kitab-kitab Itihasa
       Kitab Ramayana dan Mahabharata merupakan  dua kitab yang memuat dua epos besar yang juga disebuat Viracarita. Kedua kitab ini menceritakan  kepahlawanan yang keseluruhannya memuat tentang etika dan cara-cara mengelola pemerintahan negara. Dalam MahaBharata dalam bagian Bhisma Parwa dinyatakan sebagai berikut:

Santi Parwal LXIII, hal 147,
“manakala politik telah sirna, veda pun sirna pula, semua aturan hidup hilang musnah, semua kewajiban manusia terabaikan. Pada politiklah semua berlindung. Pada politiklah semua awal tindakan diwujudkan, pada politikiah semua pengetahuan dipersatukan, pada politiklah semua dunia terpusatkan”.
Dalam bab yang lain dijelaskan pula bahwa:
“ketika tujuan hidup manusia – dharma, artha, kama, dan moksa semakin jauh. Begitu juga pembagian masyarakat semakin kacau, maka pada politiklah semua berlindung, pada politiklah semua kegiatan agama/yajna diikatkan, pada politiklah semua pengetahuan dipersatukan, dan pada politiklah dunia terpusatkan”
Untaian kalimat dalam Santiparwa tersebut mengisyaratkan bahwa antara Politik dan Agama mempunyai kaitan yang sangat erat, yaitu politik Hindu adalah untuk menjalankan dan menegakkan ajaran Dharma. Dharma adalah hukum, kewajiban, dan kebenaran yang apabila dilanggar maka akan berakibat pada kehancuran umat manusia, dan sebaliknya dharma yang dijaga akan membawa kemuliaan (dharma raksatah raksitah).
Antara politik dan kepemimpinan merupakan sebuah mata uang yang tak dapat dipisahkan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberikan tauladan, selalu mengusahakan kesejahteraan rakyat (sukanikang rat), dan menghindari kesenangan pribadi (agawe sukaning awak). Dalam Kautilya Arthasastra dijelaskan pula bahwa “apa yang menjadikan raja senang bukanlah kesejahteraan, tetapi yang membuat rakyat sejahtera itulah kesenangan seorang raja”. Kalimat ini menunjukkan bahwa sasaran pokok dalam politik Hindu adalah kebahagiaan rakyat, bukanlah kesejahteraan penguasanya karena penguasa yang berhasil membawa rakyatnya pada kebahagiaan tertinggi, kemuliaan adalah pasti (“sang sura menanging ranaggana, mamukti sukha wibawa, bogha wiryawan”). (https://pandejuliana.wordpress.com/2012/05/25/politik-hindu-ajaran-kepemimpinan-menurut-hindu-part-3/)




2.2.4        Kitab- kitab Purana
       Kitab purana dikenal pula sebagai kitab yang memuat ceritera –ceritera kuno yang menceritakan kejadian-kejadian di masa lalu. Kitab purana memuat tentang cerita dewa-dewa, raja-raja, rsi-rsi pada  zaman kuno. Kitab purana ini banyak jumlahnya dan bila dicermati didalamnya banyak memuat ajaran tentang Nitisastra.

2.2.5        Kitab, Lontar-lontar, maupun naskah lainnya yang bersumber dari naskah sanskerta maupun jawa kuno
       Slokantara maupun Sarasamuccaya juga memuat tentang ajaran Nitisastra yang kadang-kadang dikemas dalam bentuk cerita yang mengandung kiasan tentang pemerintahan maupun masalah sosial. Dalam Tantri Kamandaka banyak sekali cerita-cerita yang memuat ajaran Nitisastra. Di daerah Bali yang sebagian besar penduduknya penganut Hindu merupakan daerah yang subur menumbuhkan karya sastra agama Hindu, seperti Nitisastra, Rajaniti, Raja sesana, Dharma sesana.

2.3  Kewajiban Seorang Tokoh Politik sesuai Sastra Hindu
1. Melindungi negara
Kewajiban utama seorang peminpin adalah melindungi seluruh wilayah dan rakyatnya (janapada). Oleh karena itu peminpin harus selalu aktif dan meyelesaikan kewajibannya. Kesejahteraan merupakan tujuan utama yang harus dilaksanakan oleh seorang pemimpin, sedangakan kejahatan adalah sebaliknya. Warga masyarakat (loka) yang terdiri dari empat warna (catur warna), seperti Brahmana, Ksatrya, Wesya, dan Sudra, serta catur asrama yang terdiri dari Brahmacari, Grahasta, Wanaprasta, dan Biksuka, merupakan tugas pemimpin untuk melindungi aktivitas dan pekerjaan mereka.

2. Memelihara kepatuhan kepada aturan Dharma
Jika pemipin telah melindungi rakyatnya dengan adil, maka akan tercipta kedamaian. Namun, jika pemimpin melalaikan kewajibannya dan melanggar aturan masyarakat, maka negara dan pemimpinnya akan mengalami bencana. Melalui ketaklukannya kepada pemimpin, semua ciptaan baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak memperoleh kesempatan untuk menikmati kesenangnnya sepanjang tidak menyimpang dari kewajibannya. Kewajiban dari pemimpin adalah memelihara peraturan-peraturan yang terdapat dalam berbagai kebiasaan dari masyarakat yang dipimpinnya.


3. Menjaga Stabilitas Perdamaian
Dalam konsepsi Hindu, perdamaian lebih berharga daripada peperangan sehingga dalam ajaran mandala tersebut secara langsung mensyaratkan betapa pentingnya perimbangan kekuatan (balancing of power) di dalam menjaga perdamaian. Dengan konsep mandala negara yang dipimpinnya akan hidup damai berdampingan dengan harmonis.Adapun konsep Mandala atau Cakra (lingkaran), yang dimaksud sebagi berikut:
a.     Vijigisu, negara yang bersangkutan diletakkan di posisi center(pusat)
b.     Ari, negara yang paling dekat sebagai lawan
c.      Mitra, negara sahabat yang paling dekat
d.     Ari Mitra, adalah sekutu dari negara lawan
e.      Mitra-mitra, negara sekutu dari sekutu Vijigisu
f.       Arimitramitra, negara lawan dari sekutu-sekutu kita
g.     Parsnigraha, negara lawan yang dibelakang
h.     Akaranda, negara sekutu yang dibelakang
i.       Parsnigrahasara, negara sekutu dari sekutu yang dibelakang
j.       Akrandasara, negara sekutu dari lawan yang dibelakang
k.     Madhyama : negara netral
l.       Udasina : negara yang diabaikan

            Kedua belas negara diatas disebut dengan nama Rajaprakrti, selanjutnya dikelompokan menjadi empat mandala, antara lain :

a.   Mandala pertama terdiri dari : vijigusu, mitra, dan mitra-mitra
b.  Mandala kedua terdiri dari : ari, arimitra, dan arimitra-mitra
c.    Mandala ketiga terdiri dari : madhyama, dan sekutunya serta sekutuny
d.  Mandala keempat terdiri dari : udasina, dan sekutunya serta sekutu dari sekutunya

4. Memajukan Kesejahteraan

          Dalam hal kewajiban pemimpin berupaya menyejahterakan masyarakatnya. Pemimpin yang melindungi rakyatnya menerima masing – masing seperenam bagia, jika pemimpin tidak melindungi rakyatnya, ia hanya menerima seperenam juga. Siapapun yang memperoleh pendapatan dari membaca weda, dengan beryajna dengan memberikan hadiah, atau dari menghormati guru dan memuja Tuhan, pemimpin menerima seperenam bagian sebagai hasil dari kewajibannya melindungi negara. Tetapi jika pemimpin melalaikan kewajibannya melindungi negara, nmun tetap menarik pajak keuntungan, tell, menerima hadiah dan denda, maka setelah mati kelak dia masuk neraka. Kewajiban raja yang lainnya adalah melindungi negara dari berbagai bencana : kebakaran, banjir, penyakit dan sebagainya.
            Selanjutnya dalam lontar Raja Pati Gundala dijelaskan bahwa ada 3 kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang pemimpin yang disebut Tri Upaya Sandhi, yang terdiri dari berikut ini.
a)       Rupa, atrinya seorang pemimpin berkewajiban untuk mengamati wajah dari rakyatnya.
b)       Wangsa, artinya suatu suku bangsa.
c)        Guna, artinya seoran pemimpin harus mengetahui tingkat pengertian dan pengetahuan serta keterampilam dari masyarakat yang dipimpinnya.

Dalam lontar Siwa- Budha Gama Tattwa dijelaskan 5 kewajiban pemimpin yang harus dilaksanakan terkait dengan persoalan – persoalan, dalam menghadai musuh – musuhnya antara lain sebagi berikut :

a.        Maya, artinya seorang pemimpin harus melakuakan upaya dalam mengumpulkan dataatau permasalahan yang belum jelas duduk permasalahannya.
b.       Upeksa, artinya seorang pemimpin hendaknya berupaya untuk mengadakan penelitian dan analisa terhadap semua bahan – bahan berupa data dan informasi untuk dapat meletakkan setiap data dan permasalahan menurut proporsinya.
c.        Indrajala, artinya seorang pemimpin hendaknya berupaya mencarikan jalan keluar dalam memecahkan setiap permasalahan yang sedang dihadapi,
d.       Wikrama, artinya seorang pemimpin hendaknya berupaya untuk melaksanakan segala upaya yang telah dirumuskan pada tingkat indrajala.
e.        Lokika, artinya setiap tindakan yang ditempuh oleh seorang pemimpin harus selalu mendapat pertimbangan – pertimbangan akal sehat dan logis serta dalam bertindak tidak berdasarkan emosi semata – mata.



3        

2.4    Etika Politik Sesuai Ajaran Agama dan Sastra Hindu
1. Sad Upaya Guna
Di dalam lontar Raja Pati Gondala dijelaskan bahwa seorang pemimpin atau seorang politikus harus bersahabat dengan para pemimpin dan masyarakat yang lainnya. Ada 6 macam sifat bersahabat yang harus dikembangkan oleh seorang pemimpin, sebagai dasar yang baik dan utama dalam kepemimpinannya, yaitu sebagai berikut :
a.        Siddhi , kemampuan untuk mengadakan persahabatan
b.       Wigrha ,   kemampuan untuk memisahkan setiap permasalahan atau persoalan serta dapat mempertahankan hubungan baik
c.        Wibawa, memiliki keiwibawaan
d.       Winarya, cakap dalam memimpin
e.        Gasraya, kemampuan untuk menghadapi lawan yang kuat
f.         Sthanna, dapat mempertahankan setiap hubungan yang baik

Demikian pula pada sumber yang sama disebutkan adanya 10 hal yang dijadikan sahabat oleh seorang pemimpin, antara lain sebagai berikut.
a. Satya, yaitu kejujuran
b. Arya, yaitu orang besar
c. Dharma, yaitu kebajikan
d. Asurya, yaitu orang yang dapat mengalahkan musuh
e. Mantri, yaitu orang yang dapat mengalahkan kesusahan
f. Salyatawan, yaitu orang yang banyak sahabatnya
g. Bali, yaitu orang yang kuat dan sakti
h. Keparamarthan, yaitu orang yang melaksanakan ilmu kerohanian
i. Kadiran, yaitu orang yang tetap pendiriannya
j. Guna, yaitu orang yang banyak ilmu dan pandai







2. Catur Paramita
        Dalam hubungannya dengan dunia luar yang berhubungan dengan daerah atau tempat bertugas, seorang pemimpin harus melengkapi dirinya dengan ajaran Catur Paramita, yaitu empat sifat dan sikap yang utama bagi pemimpin, yang terdiri dari berikut ini.
a.       Maitri, artinya seorang pemimpin harus dapat memandang orang lain sebagai karib,baik dilihat dari kedudukan sebagai insan hamba Tuhan maupun dari tujuan hidupnya.
b.       Karuna, artinya pemimpin harus dapat memberikan bantuann kepada orang yang memerlukan bantuan.
c.        Upeksa, artinya pemimpin tidak boleh terlalu memperhatikan ocehan orang lain, seperti tidak mudah dipengaruhi, dihasut dan diadu domba.
d.       Mudita, artinya pemimpin harus selalu berusaha untuk mendapatkan simpati orang lain.

3. Panca Stiti Dharmaning Prabhu
      Ajaran ini diwejangkan oleh Arjuna Sastrabahu, bahwa seorang pemimpin hendaknya menunjukkan sifat dan keteladan kepada bawahan yang dipimpinnya.
Panca stiti dharmaning prabhu adalah 5  macam sifat dan sikap tauladan yang harus dipedomi oleh seorang pemimpin dalam memimpin bawahannya. Sifat dan sikap yang dimaksud antara lain, sebagai berikut.
a.       Ing Ngarsa Asung Tulada, didepan bawahan atau masyarakat seorang pemimpin harus memberikan contoh untuk melakukan perbuatan yang baik, memberikan semangat pengabdian yang tinggi dan luhur untuk kepentingan bangsa dan agama.
b.       Ing Madya Mangun Karsa, artinya di tenga-tengah masyarakat atau bawahannya seorang pemimpin hendaknya mampu mengembangkan dan membangkitkan semangat kreativitas untuk mencapai kemajuan bersama.
c.        Tut Wuri Andayani, artinya seorang pemimpin hendaknya mampu memberikan dorongan semangat, kebebabsan berkreativitas dan mengembangkan ide-ide bawahan atau masyarakat yang dipimpinnya sepanjang bersifat positif, dengan demikian masyarkat yang dipimpinnya akan mengalami kemajuan yang sempurna.
d.       Maju tanpa bala, artinya seorang pemimpin harus berani maju kedepan walaupun tanpa anak buah, bahkan berani berkorban demi kepentingan bawahannya
e.        Sakti tanpa aji, artinya seorang pemimpin yang berhasil dalam melaksanakan tugas, ia tidak mau terlalu dipuji-puji dan disanjung-sanjung.


2.5    Konstribusi Agama Hindu dalam  Hubungan Politik, berbangsa dan bernegara
Lahirnya bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia dengan Dasar Pancasila dan lambang Garuda Pancasila dengan sesanti Bhineka Tunggal Ika adalah sangat tepat, di dukung pemilihan yang amat cermat dari para pendiri negara yang mengamati kondisi nyata bangsa Indonesia yang  memang sangat majemuk.  Sesanti Bhineka Tunggal Ika diangkat dari karya Rakawi Empu Tantular dalam Kekawin Sutasoma, yang memaparkan kondisi komunikasi antara agama Hindu dan Buddha pada masa itu, yang lengkapnya berbunyi Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mang Rwa. Kalimat ini adalah kalimat dalam bahasa jawa kuno. Bhina artinya berbeda-beda, tunggal artinya satu, ika artinya itu, tan hana artinya tidak ada, Dharma artinya kewajiban, Mangrwa artinya mendua. Secara harfiah maka kalimat itu artinyaberbeda-berda tetapi tetap satu, tidak ada kewajiban atau kebenaran yang mendua. Kalimat ini mengandung ajaran Nitisastra yang tinggi dan sesuai dengan bangsa dan kesatuan Indonesia. Dalam konteks politik berbangsa dan bernegara sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa Indonesia.
Dalam konteks negara Indonesia, mantra veda mengatakan bahwa Indonesia terdiri dari  berbagai suku yang menempati wilayah Indonesia  yang satu diharapkan mendapat jaminan dan kesempatan yang sama serta layak dalam menikmati  sumber daya alam Indonesia, hidup bersatu dan damai sehingga kebahagiaan dapat tercapai. Persatuan dalam kebhinekaan itu pada dasarnya bersifat dinamis, tidak mengecilkan arti setiap unsure budaya bangsa dan perbedaan budaya yang ada diantara warga negara Indonesia. Semua kegiatan yang bertujuan memajukan dan mencerdaskan anggota masyarakat dalam bidang apapun juga hendaklah didasarkan atas kesadaran bahwa usaha-usaha itu tidak mengganggu atau melemahkan persatuan dan kesatuan persatuan bangsa Indonesia. Veda jelas-jelas menganjurkan persatuan karena dengan persatuan itu sesungguhnya kebahagiaan bersama dapat tercapai. Persatuan yang dimaksud bukanlah hanya antara sesama agama melainkan kesatuan dengan semua golongan yang berbeda-beda seperti yang dimaksud Bhineka Tunggal Ika.