Kamis, 27 Desember 2018

Penghayat Kapribaden


Penghayat Kapribaden


Disusun oleh:
A.A Dewi Kartika
Ketut Deni Wiryanthari


SEKOLAH TINGGI  AGAMA HINDU
 DARMA USANTARA
JAKARTA
2018


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Sejarah penghayat kabribaden
            Penghayat Kepercayaan sebenarnya adalah penganut agama lokal. Kami mempercayai ajaran leluhur kami yang sudah ada jauh sebelum agama-agama besar dari luar negeri itu datang. Istilah ‘agama’ sendiri adalah istilah yang berasal dari bahasa lokal, bukan bahasa dari luar.
            Dalam proses sejarah, setelah masuk agama-agama dunia, sebagian penganut agama lokal berpindah keyakinan ke agama-agama baru itu. Ada yang melakukan sinkretisme, yaitu menggabungkan dua keyakinan, tapi banyak juga yang tetap bertahan. Dari yang bertahan ini banyak yang mengalami pemaksaan agar pindah keyakinan. Karena ingin mempertahankan keyakinan mereka atau bisa juga karena mengalami diskriminasi dan penindasan, mereka mengungsi ke tempat-tempat lain.
            Dalam sejarah hal itu terjadi, misalnya, saat Kerajaan Demak menghancurkan Kerajaan Majapahit. Rakyat Majapahit sebenarnya adalah para penganut agama lokal yang bercampur dengan Hindu dan Budha. Ketika Majapahit hancur, para penganut agama lokal yang ingin mempertahankan agamanya terpaksa mengungsi –ada yang ke Tengger atau tempat lainnya.
            Hal yang sama terjadi di Sunda. Di masa lalu kerajaan yang berkuasa di Sunda adalah Galuh yang hancur karena diserang Kerajaan Cirebon yang dibantu Demak. Para penganut agama lokal ada yang mengungsi ke Kampung Naga, ke Garut; namun ada juga yang bertahan di tempat dan mengakomodasi atau menyatukan dua keyakinan agama. Hanya sedikit yang berganti agama. Sebagian besar ajaran lokal tetap diyakini. Namun demi keamanan, yang baru pun diterima. Kondisi seperti itu masih berlanjut sampai sekarang. Kalau dari sisi ajaran, agama kami adalah agama Sunda. Ajaran yang berasal dari leluhur Sunda. Tapi sekarang ada Sunda Wiwitan dan ada yang seperti kami.

            Jauh sebelum Hindu - Budha masuk ke Nusantara, leuluhur bangsa Indonesia sudah meimiliki sistem kepercayaan dan menjalankan kehidupan berketuhanan dengan baik.
            Prasa atau istilah AGAMA adalah murni milik leluhur Nusantara (Untuk Penjelasan Agama bisa merujuk ke Entri Agama Milik Siapa). Penghayatan Leluhur bangsa Nusantara mengenai agama sudah sangat tinggi sehingga termanifestasi dalam perilaku Budi Luhur. Perilaku Budi Luhur yang tinggi ini ditunjukan dengan sikap penerimaan kedatangan agama - agama luar ke nusantara yang disambut dengan baik, bahkan diberi tempat dan dibantu kebutuhan sarana dan prasarana pengembangannya.
            Alam membentuk karakter bangsa , alam yang subur gemah ripah loh jinawi membentuk karakter Nenek moyang Nusantara yang tidak menyukai konflik. Sehingga untuk tujuan harmoni, nilai - nilai kebaikan dari agama yang datang diserap dan diharmonikan dalam sistem Agama Nusantara (Akulturasi). salah satunya yaitu semboyan Majapahit "Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa" dimana Keharmonisan bermasyarakat majemuk kala itu tertuang.
            Pada masa Hindu dan Budha masuk ke Nusantara tidak ada konflik agama, begitu pun dengan Islam (seperti yang sekarang dianut NU), Namun ketika paham agama dibaurkan dengan politik dan kekuasaan, maka muncul dan berkembang paham ekstrim dan akhirnya ada usaha untuk mendominasi dan menguasai, sehingga sejak itu mulai ada konflik dan ada penindasan/penyerangan terhadap penganut agama diluar Islam. 
            Dalam sejarah tercatat peperangan antar kerajaan di Nusantara :
1. Prabu Brawijaya (Majapahit) diserang dan dihancurkan Demak 
2. Galuh-Talaga-Kuningan ditaklukan Cirebon & Demak
3. Pajajaran dihancurkan Banten & Demak
4. Kerajaan Sisingamangaraja diserang PADRI Imam Bonjol. 

            Peperangan dan penaklukan itu membuat penganut agama leluhur terusir, sebagian mengasingkan diri ke tempat - tempat terpencil yang sekarang menjadi Kampung - kampung adat, seperti Tengger, Baduy/Citorek, Kampung Kuta, dsb. Dan sebagian lagi bertahan dan berada di wilayah kekuasaan kesultanan Islam, dengan cara mengaku menganut Islam, tepi tetap menjalankan ajaran leluhur secara sembunyi - sembunyi.

            Bertahannya ajaran leluhur, tidak lepas dari peranan keraton - keraton di Nusantara yang walaupun sudah menjadi kesultanan Islam, namun tetap mempertahankan tradisi dan spiritual Nusantara yang bersumber dari ajaran agama leluhur (PRIYAYI).

            Pada jaman Indonesia Merdeka kemudian diistilahkan sebagai kelompok aliran-aliran kebatinan/kejiwaan/kerokhanian, dan kini disebut sebagai aliran kepercayaan atau komunitas Kepercayaan terhadap Tuhan YME, yang pada masa-masa awal kemerdekaan oleh masing-masing sesepuh/penggali ajarannya dibentuk semacam paguyuban atau organisasi dan diberi nama, seperti: Kapribaden.
           
            Tokoh ajaran agama kabribaden yaitu, Romo semono sastrohadidjodo, beliau hidup dari tahun 1900 sampai tahun 1981, berdomisilisi di daerah Gunun Damar dan Sejiwan Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, jawa tengah.


















BAB II
PEMBAHASAN      
2.1 Kitap suci penghayat kapribaden
            Kitab dapat diartikan catatan , atau buku  yang dibuat oleh manusia Suci itu bersih , putih tidak ada noda , tidak cacat . Kitab suci dapat diartikan adalah sebuah catatan yang dibuat oleh manusia , yang berisikan catatan yang tidak ada cacat yang diyakini kebenarannya. Sedang asal catatan didapat dan diperoleh dari laku spiritual atau laku yang lainnya. Catatan  tersebut memuat , petunjuk  dari Yang Maha Esa , Maha Kuasa , Atau Tuhan YME. atau Moho Suci , dan Gusti Ingkang Moho Suci ; Putro Romo  : adalah Putro Sabdo Romo Herucokro , yang laku spiritualnya menggunakan ; Kunci , Asmo , Mijil , Paweling dan Singkir ( Panca Gaib ).
Kitab Suci Putro Romo  , disebut “ Kitab Suci Sejati Adamakno  “
            Kitab Suci Sejati Adamakno , bukan berisikan catatan seperti Kitab Suci tersebut diatas,  tetapi berupa ucapan dari seseorang Manusia hidup , yang digerakan oleh Yang Maha Hidup , dapat berupa  Sabda , Dawuh atau Pangandikan dapat juga wewarah , petunjuk  langsung dari Tuhan YME.  Petunjuk  tersebut untuk pribadi sendiri , tetapi bisa juga untuk sanak saudara , sahabat teman atau semua manusia hidup didunia .
            Apakah semua ucapan manusia tersebut dapat dikatakan sebagai Kitab Suci Sejati Adamakno ? Tidak semua ucapan manusia dikatakan sebagai Kitab Suci Sejati Adamakno. Ada persyaratan tertentu  , tidak semua orang dapat dengan mudah mengerti dan memahaminya serta  membedakan ucapan manusia bahwa , Apa sebenarnya Kitab Suci Sejati Adamakno.
            Persyaratan yang utama :  Seseorang tersebut adalah seorang laku , berjiwa bersih ,  berbudi luhur , ( berbudi bawa leksono  )  selalu berbuat kebaikan  , ucapan dan tindakan nya selalu sama .
            Tingkah laku tindak tanduk , perbuatannya  nya bila dilihat semua orang selalu menyenangkan .
Apa yang dikatakan selalu  mahani artinya berada dalam kebenaran dan terbukti , sangat berguna serta bermanfaat .
            Apa yang dikatakan nya selalu membuat tentram semua  yang sedang mendengarkan .
Dengan demikian maka  Sabda , atau Dawuh , petunjuk dari Gusti Ingkang Moho Suci , atau Tuhan YME  akan dilewatkan ucapan nya melalui kreteria seseorang manusia seperti tersebut diatas .
            Ucapan manusia yang keluar tersebut bukan hasil olah pakarti mereka tetapi , sebenarnya adalah Suara dari Tuhan atau Gusti Ingkang Moho Suci . Dalam kenyataanya Suara Tuhan tidak dapat dipastikan , dijastifikasi  oleh manusia , karena baru  diketahui indera manusia setelah kejadian atau peristiwa
            Pada intinya, Kitab Suci Sejati Adamakno adalah  Petunjuk dari Tuhan atau Gusti Ingkang Suci, lewat  seorang manusia beserta  pertanda  Alam semesta, dengan persyaratan  tertentu, yang isinya terbukti berguna dan bermanfaat, bagi semua mahkluk dunia, mengakibatkan  ketentraman dan kedamaian   bagi penghuni dunia seisinya , umat manusia  pada khusunya.
            Dapat disimpulkan  bahwa Kita Suci Adamakno , adalah Kitab yang bisa (  muna-muni  ) atau berbunyi sendiri lewat Urip atau Hidup, digerakan oleh Yang Maha Hidup dengan perantara  wujud yaitu manusia . 
            Sedang ( muna-muni ) bunyinya  seseorang manusia bisa dari : Catatan , olah  budi pakarti, kitab suci, wulangreh, wewarah, pangadikan, dawuh , sabdo , atau langsung dari petunjuk Urip nya , Guru jati nya, atau  Gusti Ingkang Moho Suci .
            Sumber filosofi :  “ Kekudangan Romo  “ :  “ Heh Putranisung sami , pra satriya lan wanita sejati , mrenea sun jarwani :  “ Mangertia jenengsira Sun Sabda dadi Kitab Suci Sejati Adamakna wasatanipun , yaiku wujudira yekti . Wulangreh sejati uninira , berbudi bawa leksana kadya lakunira  prantanda jenengsira putraningsun .



2.2 Tempat Ibadah penghayat kapribaden
            Penghayat kapribaden tidak memiliki tempat ibadah, karena ajaran kapribaden percaya bahwa tuhan ada dimana-mana dan tuhan tidak bisa di buatkan tempat tinggal karena tuhan meliputi JAGAD RAYA, kalo manusia bisa membuatkan tempat suci berarti manusia lebih sakti dan hebat dari tuhannya sehingga bisa menempatkan tuhan di tempat suci serta bisa tahu arah kiblatnya.
            Jumlah kaum penghayat mungkin tidak sebesar jumlah penganut agama resmi. Status mereka pun tidak seperti penganut agama-agama yang memang diakui secara resmi di Indonesia yakni Islam, Kristen, Katholik, Hindu dan Budha. Meski demikian keberadaan mereka dilindungi oleh UUD 1945 pasal 29. Hal ini dilakukan karena aliran kebatinan dianggap sebagai suatu bentuk kebudayaan. Pembinaannya dilakukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan khususnya oleh Direktorat Jendral Kebudayaan, Direktorat Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.14 Semenjak proklamasi kemerdekaan Negara Republik Indonesia, bermunculanlah bermacam-macam aliran kebatinan. Rahmat Subagyo mencatat adanya 285 aliran kebatinan di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Biak, Lombok, dan Jawa.15 Di Solo sendiri terdapat 20 organisasi aliran kebatinan dan 4 diantaranya sudah tidak aktif yang berada dalam pengawasan Kejaksaan Negeri Surakarta.16 Salah satu aliran kebatinan tersebut adalah Paguyuban Kulowargo Kapribaden. Dalam memahami kehidupan orang Jawa di bidang agama maupun religi, maka tidak salah apabila di dalam wadah aliran kepercayaan Paguyuban Kulowargo Kapribaden itu sendiri merupakan tempat berkumpulnya orang dari berbagai macam agama. Menurut Soedihardjo selaku pimpinan Paguyuban Kulowargo Kapribaden, anggotanya tidak hanya terbatas dengan salah satu agama saja, melainkan dari berbagai pemeluk agama yakni Islam, Kristen, Katholik dan Hindu.





DAFTAR PUSTAKA








Tidak ada komentar:

Posting Komentar